Tampilkan postingan dengan label KEPEDIHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEPEDIHAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2026

KEPEDIHAN DALAM RUMAH TANGGA


Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang tak diungkapkan. Karena dalam tali percintaan, engkau dan aku belum menjadi kita. Pernikahanlah yang kemudian dipercaya dapat menyembuhkan luka, menerbangkan dusta, dan membuka kejujuran. Sebab dalam sebuah pernikahan, selepas ijab dalam satu tarikan napas itu, engkau dan aku telah melebur menjadi kita. Tubuhmu dan tubuhku telah diizinkan menjadi satu, bersetubuh.

Tapi, tidak setiap pernikahan dapat menyebuhkan. Dewi Yull malah percaya, seperti juga percintaan, perkawinan, rumah tangga, selalu menyimpan luka, dusta, dan kejujuran yang tak diucapkan.

“Tidak ada rumah tangga tanpa rintihan. Semua rumah tangga memiliki rintihan,” katanya dengan mata berkaca, ketika menjelaskan perceriannya dengan Ray Sahetapi, Agustus 2004.

Karena berisi rintihan itulah, setiap rumah tangga, pada hakikatnya, berdiri di tepi jurang perceraian. Sedikit saja rintihan itu naik menjadi jerit atau pekik, perkawinan pun kehilangan pondasi. Jadi, mengikuti ucapan Dewi, berumah tangga sebenarnya adalah mau mendengar rintihan, dan tidak mengabaikannya. Hanya dengan mau mendengar, sebuah rintihan akan berdiam hanya sebagai erang, dan perkawinan tak sampai guncang.

Kini, Andara Early yang merasakan rintihan dalam perkawinan. Rumah tangga yang dia pancang dengan Cessa David Lukman, guyang. Early pun meyakini, hanya perceraian yang bisa menyelamatkannya. “Untuk kebaikan bersama, satu-satunya jalan!” ucapnya. Padahal dulu, ketika tengah dilanun asmara, Early justru merasa Cessa-lah juru selamatnya. Dia menjanda dengan aib yang susah dicerna. Ferry, suaminya, mengira Maghali, anak mereka, lahir bukan dari benihnya. Ada lelaki lain yang telah membuahi Early. Betapa ngeri. Tapi Cessa abai itu. Dia mencinta, matanya tak hirau perawan atau janda, teraibi atau mulia. Cessa percaya, pernikahan akan menyembukan Early, menyatukan mereka dalam kejujuran dan keberterimaan.

Tapi, keberterimaan Cessa berhimpitan dengan masa lalu. Ia pun jadi begitu menjaga kecintaannya. Penjagaan yang, dalam bahasa Early, berubah menjadi posesivitas. Early merasa dihaki, dimiliki, diawasi, dibatasi; tak dipercayai. “Yang saya dengar dari Early, Cessa sangat posesif, ruang gerak Earlu jadi terbatas,” jelas Agus, pengacaranya. Early merasa dimiliki, padahal, “Suami, anak, itu milik Allah. Manusia tak boleh mengklaim memiliki manusia lain,” jelas Dewi Yull.

Merasa memiliki. Barangkali, ketika itulah perkawinan mulai menerbitkan rintihan. Karena tak ingin menghaki jugalah, Dewi pun melepaskan Ray. Karena tak ingin dihaki, dimiliki itu juga, Early memilih bercerai.

Pernikahan dengan demikian, apakah bukan sebuah kemenyatuan? Bukan engkau dan aku yang melebur menjadi kita? Khalil Gibran dengan pasti menjawab, bukan.

Berpasangan kalian telah diciptakan, maka bersamalah
selamanya
Bersamalah, saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan

Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP