APA KAH SAAT INI AKU KANGEN
Kerinduan itu bisa datang tiba-tiba
dan dia datang
...
Beberapa jam yang lalu aku kelaparan, hahaha, dan mau tidak mau kuseret diriku untuk berpakaian--coat biru 10 yen ku, kaoskaki abu-abu dari kantong laundry, jilbab hitam dengan wangi Flower by Kenzo samar.
7Eleven tujuanku, Machino Okashiyasan coklat sudah membuatku kecanduan, cukup parah hingga dapat membuatku keluar di malam dingin awal musim semi.
Tangga besi apato butut Dai 2 Sun Height berdentang-dentang ketika aku menuruninya. Sepeda ku berdiri sendirian tepat di samping anak tangga terbawah. Payung coklat yang dua jari-jarinya patah tergantung di setirnya.
7Eleven, convenient store yang menjadi tujuanku tidak jauh, tapi berjalan sendirian di jalanan gelap bukan pilihan--orang Jepang jarang yang menyalakan lampu depan rumah, entah karena hemat energi atau karena alasan lain. Selain itu, udara masih cukup membuatku menggigil.
7Eleven berada di seberang jalan. Traffic light menyala merah. Aku menunggunya berubah warna. Aku mendongak ke langit, bulan pucat menggantung di balik awan.
Kemudian...tiba-tiba saja, rasa rindu itu datang, merayap perlahan memenuhi hatiku, Aku merindukan Jogja.... Ada suatu kesamaan yang entah malam ini tunjukkan padaku dengan malam-malam yang biasa kulalui di Jogja.
Aku biasa keluar malam untuk mencari makanan yang akan menemaniku terjaga. Rasa lapar yang khas...lampu-lampu jalanan yang samar karena aku tidak memakai kacamata...suara jalanan...dan tentu saja bulan di langit mendung. Semua itu mengingatkanku akan Jogja. Dan rindu itu benar-benar membuncah di dada.
Pada saat-saat seperti ini aku biasanya berangan, apa jadinya aku bila tidak berada di tempat ini.
Mungkin aku juga sedang tengkurap di tempat tidurku, menatap laptopku tercinta, mengetik sesuatu--kemungkinan laporan praktikum. Buku-buku berserakan di sekitar--referensi. National Geographic baru juga ada di sana--edisi Maret yang sudah datang di akhir Februari, kemungkinan sudah kubaca lebih dari tiga kali, dan kini aku akan mengulanginya lagi untuk mencari detail terlewat. Kemudian, ketika rasa lapar itu datang, hal yang sama akan kulakukan, berpakaian dan mengambil kunci. Bukan kunci apartemen, melainkan kunci motor Suzuki Smash velg racing warna merah kesayanganku. Dia kunamakan ¨mujahid muda¨. Aku sudah mengalami lebih dari lima kali kecelakaan bersamanya...dia adalah salah satu bagian kehidupan Jogja yang kurindukan. Hmm.
Aku rindu.
Aku tercabik di antara rasa. Separuh diriku ingin pulang dan meninggalkan Jepang begitu saja. Namun separuhnya lagi yang berakal sehat tahu bahwa aku tidak bisa. Bukan hanya karena stipend KAUST yang berlipat tiga selama aku hidup di sini, melainkan karena...takdir. Aku ingin menjalani takdir ku di sini, dengan segala pahit getirnya, yang membawa sekecap selintas manis di sela-sela nya. Aku ingin menjalani takdirku di sini...karena takdir ini juga yang membawa rindu ini ke dadaku.
Takdir ini pula yang membuatku menulis note terpanjang yang pernah kubuat...karena aku rindu.
Allah...aku rindu.
Namun apa, siapa yang sedang kurindukan?
