Jumat, 25 September 2026

Read more...

Kamis, 24 September 2026

KELUARGA SAKINAH


Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Keluarga yang tenteram, penuh cinta, dan kasih sayang. Itulah yang dikemukakan Allah dalam firmanNya di QS. 30 : 21. Maka, kita harus mencermati lebih jauh, apakah yang dimaksudkan dengan keluarga yang tenteram, penuh cinta, dan kasih sayang itu.

Saya kira kita sudah tahu dan paham makna kata 'tenteram'. Yaitu, tidak terjadi percekcokan, pertengkaran, atau apalagi perkelahian. Ada kedamaian tersirat di dalamnya. Boleh jadi masalah datang silih berganti, tetapi bisa diatasi dengan hati dan kepala dingin.

Ketenteraman hanya bisa muncul jika anggota keluarga itu memiliki persepsi yang sama tentang tujuan berkeluarga. Jika tidak, yang terjadi adalah perselisihan dan pertengkaran. Si suami ingin ke barat, sang istri ingin ke timur. Si suami mengira itu baik. Sang istri sebaliknya. Dan seterusnya. Bagaimana mungkin rumah tangga yang demikian bisa tenteram.

Maka ketenteraman hanya akan muncul jika suami, istri, dan anak memiliki persepsi yang sama tentang segala hal yang berkait dengan aktivitas keluarga. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Setidak-tidaknya lakukanlah hal-hal berikut ini :
a. Melakukan komunikasi
b. Menjaga kejujuran
c. Membangun toleransi
d. Berusaha saling memberi

Keempat hal di atas adalah kunci dari terjadinya ketenteraman. Pertengkaran seringkali dimulai dari buntunya komunikasi. Karena masing-masing pihak tidak mengerti yang dimaksudkan oleh pasangannya.

Sebaliknya, komunikasi yang lancar seringkali menjadi media efektif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Boleh jadi kita berbeda pendapat tentang sesuatu hal, tetapi jika itu dikomunikasikan dengan baik, tidak akan terjadi salah persepsi. Kita jadi tahu persoalannya dengan segala alasan yang melatarbelakangi.

Bahkan hal-hal yang sangat privat sekalipun sebaiknya dibangun lewat komunikasi yang baik. Barangkali ada suami atau istri yang malu-malu menyampaikan suatu hal yang dianggapnya tabu. Padahal kalau itu diterus-teruskan, bisa menyebabkan pertengkaran. Bahkan kadang sampai menjurus ke perceraian.

Ketentraman muncul karena rasa aman atas berbagai keperluan yang bisa terpenuhi. Atau setidak-tidaknya ada kesepahaman untuk memenuhi masing-masing kebutuhan suami dan istri. Ambil contoh urusan di kamar tidur.

Jika karena sesuatu hal, salah satu pasangan merasa tidak terpenuhi hasratnya, maka jangan sungkan-sungkan atau memendam perasaan. Sebab, tidak jarang pertengkaran hebat terjadi dikarenakan persoalan-persoalan yang tadinya dianggap sepele. Tetapi tidak terkomunikasikan dengan baik.

Ini hanyalah soal seni berkomunikasi. Bagaimana kita bisa menyampaikan keinginan secara indah dan elegan kepada pasangan, tanpa harus mengorbankan hal-hal yang bersifat mendasar. Justru di situlah letak seni berumah tangga, antara suami dan istri. Antara anggota-anggota keluarga.

Tetapi pada dasarnya, tetap saja komunikasi yang lancar adalah salah satu sendi terjadinya keharmonisan dalam berkeluarga. Tidak masalah apakah komunikasi itu dilakukan secara terbuka ataukah lewat cara yang lebih tersamar. Yang penting komunikasi antar suami istri harus berjalan lancar.

Akan tetapi, memang tidak semua pasangan suami istri bisa berlaku seperti itu. Terserah saja. Yang penting ada semacam kesepakatan dan kesepahaman antara keduanya. Insya Allah dengan komunikasi yang baik itu, suami dan istri akan merasakan ketenteraman, karena tidak ada yang tersembunyikan.

Yang kedua, selain komunikasi yang lancar, kejujuran memainkan peranan yang sangat vital dalam membangun ketenteraman berumah tangga. Rumah tangga mana pun dan siapapun, ketika dijalani dengan penuh kebohongan dan khianat, tidak akan menghasilkan ketenteraman.

Selalu ada perasaan was-was, gelisah, dan khawatir terhadap pasangannya. Bagaimana mungkin kita merasa tenteram jika setiap cerita dan pengalaman pasangan kita selalu berbau kecurigaan?

Kejujuran mutlak diperlukan dalam membina ketenteraman berumah tangga. Bahkan Rasulullah SAW pernah mengatakan kepada seseorang yang baru masuk Islam, bahwa kejujuran adalah syarat untuk masuk Islam. Dan karena kejujurannya itulah orang tersebut lantas bisa beragama dengan baik. Bahkan tidak berani berbuat yang tidak-tidak, karena ia merasa tidak pernah bisa menyembunyikan perbuatan buruknya.

Karena itu, sejak awal berumah tangga, kita harus sudah menanamkan komitmen dan kesepakatan untuk selalu jujur kepada pasangan kita. Itulah awal yang baik dari ketenteraman rumah tangga kita. Rumah tangga yang sakinah.

Yang ketiga, syarat untuk mencapai keluarga sakinah adalah toleransi. Kenapa ini perlu? Sebab suami dan istri sebenarnya adalah dua individu yang berbeda, yang kini berusaha untuk bersatu dalam rumah tangga.

Karena adanya perbedaan itulah maka kita butuh beradaptasi satu sama lain. Di sinilah peranan toleransi. Jangan berharap pasangan kita menjadi sama persis seperti kita. Pasti memiliki perbedaan.

Mulai dari hal-hal kecil sampai mungkin yang mendasar. Misalnya soal selera makan. Ada yang suka makan sama kuah, sedangkan pasangannya lebih suka tanpa kuah. Soal suasana tidur, ada yang suka tidur dalam gelap, tapi ada juga yang lebih suka terang. Ada yang suka pakai AC, lainnya tidak suka. Ada yang suka berlama-lama foreplay, tapi ada juga yang langsung 'tubruk'.

Pokoknya, suami dan istri adalah dua individu yang berbeda. Pasangan baru ini pasti butuh adaptasi. Dan itu sangat butuh toleransi. Jangan sampai masing-masing pasangan merasa dirinya yang paling benar dan paling berhak. Allah berfirman di dalam Al-Qur'an bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam menikmati kebahagiaan rumah tangga, "Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya (terhadap suami) menurut cara yang baik." (QS. Al-Baqarah (2) : 228).

Rasulullah juga bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu." (HR. Tirmidzi).

Maka, toleransi bakal menyelesaikan banyak kendala dalam rumah tangga. Terutama yang masih baru. Marilah kita pahami pasangan kita apa adanya. Dan kemudian kita berikan ruang gerak untuk saling beradaptasi. Insya Allah dengan cara ini rumah tangga kita terjauhkan dari percekcokan dan pertengkaran. Suami menghargai istri, dan sang istri menghargai suami. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dan yang keempat, ketenteraman akan semakin sempurna kita dapatkan, jika kita bisa saling memberi. Bukan saling menuntut. Tuntutan selalu menciptakan ketegangan. Sedangkan pemberian selalu menghasilkan ketenteraman dan kebahagiaan. Apalagi jika pemberian itu sedang menjadi kebutuhan. Wah, betapa nikmatnya.

Maka, suami dan istri mesti selalu 'saling intip' kebutuhan pasangannya. Jika istri sedang suntuk dan ingin refreshing, maka suami yang baik akan berusaha menyempatkan waktu untuk sang istri. Mungkin perlu diajak keluar rumah menikmati suasana yang lebih segar.

Sebaliknya, jika suami sedang stres banyak tugas di tempat kerja, si istri dengan tanggap memberikan ketenangan. Mungkin dimasakkan makanan kesukaannya. Atau barangkali melepaskan stres-nya dengan cara dipijit-pijit ringan, yang kalau perlu diteruskan pada hubungan yang lebih intim.

Saya kira kebanyakan suami suka cara itu, dan akan semakin sayang kepada istrinya. Apalagi yang masih pengantin baru. Kebanyakan suami akan terkurangi stres-nya dengan menyalurkan hasrat biologisnya dengan istri yang disayanginya.

'Memberi' tidak selalu berupa hal-hal yang besar. Seringkali memberikan perhatian sudah cukup efektif untuk menghasilkan kententeraman. Ada rasa aman, karena orang yang dicintainya selalu memperhatikan segala kebutuhannya. Baik yang bersifat fisik maupun psikis.

Read more...

KEPEDIHAN DALAM RUMAH TANGGA


Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang tak diungkapkan. Karena dalam tali percintaan, engkau dan aku belum menjadi kita. Pernikahanlah yang kemudian dipercaya dapat menyembuhkan luka, menerbangkan dusta, dan membuka kejujuran. Sebab dalam sebuah pernikahan, selepas ijab dalam satu tarikan napas itu, engkau dan aku telah melebur menjadi kita. Tubuhmu dan tubuhku telah diizinkan menjadi satu, bersetubuh.

Tapi, tidak setiap pernikahan dapat menyebuhkan. Dewi Yull malah percaya, seperti juga percintaan, perkawinan, rumah tangga, selalu menyimpan luka, dusta, dan kejujuran yang tak diucapkan.

“Tidak ada rumah tangga tanpa rintihan. Semua rumah tangga memiliki rintihan,” katanya dengan mata berkaca, ketika menjelaskan perceriannya dengan Ray Sahetapi, Agustus 2004.

Karena berisi rintihan itulah, setiap rumah tangga, pada hakikatnya, berdiri di tepi jurang perceraian. Sedikit saja rintihan itu naik menjadi jerit atau pekik, perkawinan pun kehilangan pondasi. Jadi, mengikuti ucapan Dewi, berumah tangga sebenarnya adalah mau mendengar rintihan, dan tidak mengabaikannya. Hanya dengan mau mendengar, sebuah rintihan akan berdiam hanya sebagai erang, dan perkawinan tak sampai guncang.

Kini, Andara Early yang merasakan rintihan dalam perkawinan. Rumah tangga yang dia pancang dengan Cessa David Lukman, guyang. Early pun meyakini, hanya perceraian yang bisa menyelamatkannya. “Untuk kebaikan bersama, satu-satunya jalan!” ucapnya. Padahal dulu, ketika tengah dilanun asmara, Early justru merasa Cessa-lah juru selamatnya. Dia menjanda dengan aib yang susah dicerna. Ferry, suaminya, mengira Maghali, anak mereka, lahir bukan dari benihnya. Ada lelaki lain yang telah membuahi Early. Betapa ngeri. Tapi Cessa abai itu. Dia mencinta, matanya tak hirau perawan atau janda, teraibi atau mulia. Cessa percaya, pernikahan akan menyembukan Early, menyatukan mereka dalam kejujuran dan keberterimaan.

Tapi, keberterimaan Cessa berhimpitan dengan masa lalu. Ia pun jadi begitu menjaga kecintaannya. Penjagaan yang, dalam bahasa Early, berubah menjadi posesivitas. Early merasa dihaki, dimiliki, diawasi, dibatasi; tak dipercayai. “Yang saya dengar dari Early, Cessa sangat posesif, ruang gerak Earlu jadi terbatas,” jelas Agus, pengacaranya. Early merasa dimiliki, padahal, “Suami, anak, itu milik Allah. Manusia tak boleh mengklaim memiliki manusia lain,” jelas Dewi Yull.

Merasa memiliki. Barangkali, ketika itulah perkawinan mulai menerbitkan rintihan. Karena tak ingin menghaki jugalah, Dewi pun melepaskan Ray. Karena tak ingin dihaki, dimiliki itu juga, Early memilih bercerai.

Pernikahan dengan demikian, apakah bukan sebuah kemenyatuan? Bukan engkau dan aku yang melebur menjadi kita? Khalil Gibran dengan pasti menjawab, bukan.

Berpasangan kalian telah diciptakan, maka bersamalah
selamanya
Bersamalah, saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan

Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.

Read more...

MASIH TERASAKAH RASA SAYANGMU

Setiap memandang jauh keluar jendela, berharap dapat melihatmu di sana. Dengan bias tatapan mata yang tajam menghujam jantung, dengan senyum khas indah yang terkembang, atau hanya sekedar sapa "hai" yang mengalun lembut dari pesona bibirmu. Namun apa yang kudapati? Tak jua nampak hadirmu. Kemanakah kamu akhir-akhir ini? Seperti lenyap tertelan bumi. Pergi tak pamit, bahkan satu kata "bye" pun tak sempat terucap.

Coba sebutkan satu saja apa salahku hingga kau meninggalkanku? Atau aku memang salah karena hanya ingin menjadikanmu sahabat? Jelas tanya itu memenuhi penjuru ruang hatiku.

Lalu sepenggal kata kulihat samar melalui jendela, "AKU YANG SALAH KARENA TELAH MENCINTAIMU"

Read more...

APA KAH SAAT INI AKU KANGEN


Kerinduan itu bisa datang tiba-tiba
dan dia datang
...
Beberapa jam yang lalu aku kelaparan, hahaha, dan mau tidak mau kuseret diriku untuk berpakaian--coat biru 10 yen ku, kaoskaki abu-abu dari kantong laundry, jilbab hitam dengan wangi Flower by Kenzo samar.

7Eleven tujuanku, Machino Okashiyasan coklat sudah membuatku kecanduan, cukup parah hingga dapat membuatku keluar di malam dingin awal musim semi.

Tangga besi apato butut Dai 2 Sun Height berdentang-dentang ketika aku menuruninya. Sepeda ku berdiri sendirian tepat di samping anak tangga terbawah. Payung coklat yang dua jari-jarinya patah tergantung di setirnya.

7Eleven, convenient store yang menjadi tujuanku tidak jauh, tapi berjalan sendirian di jalanan gelap bukan pilihan--orang Jepang jarang yang menyalakan lampu depan rumah, entah karena hemat energi atau karena alasan lain. Selain itu, udara masih cukup membuatku menggigil.

7Eleven berada di seberang jalan. Traffic light menyala merah. Aku menunggunya berubah warna. Aku mendongak ke langit, bulan pucat menggantung di balik awan.
Kemudian...tiba-tiba saja, rasa rindu itu datang, merayap perlahan memenuhi hatiku, Aku merindukan Jogja.... Ada suatu kesamaan yang entah malam ini tunjukkan padaku dengan malam-malam yang biasa kulalui di Jogja.
Aku biasa keluar malam untuk mencari makanan yang akan menemaniku terjaga. Rasa lapar yang khas...lampu-lampu jalanan yang samar karena aku tidak memakai kacamata...suara jalanan...dan tentu saja bulan di langit mendung. Semua itu mengingatkanku akan Jogja. Dan rindu itu benar-benar membuncah di dada.

Pada saat-saat seperti ini aku biasanya berangan, apa jadinya aku bila tidak berada di tempat ini.
Mungkin aku juga sedang tengkurap di tempat tidurku, menatap laptopku tercinta, mengetik sesuatu--kemungkinan laporan praktikum. Buku-buku berserakan di sekitar--referensi. National Geographic baru juga ada di sana--edisi Maret yang sudah datang di akhir Februari, kemungkinan sudah kubaca lebih dari tiga kali, dan kini aku akan mengulanginya lagi untuk mencari detail terlewat. Kemudian, ketika rasa lapar itu datang, hal yang sama akan kulakukan, berpakaian dan mengambil kunci. Bukan kunci apartemen, melainkan kunci motor Suzuki Smash velg racing warna merah kesayanganku. Dia kunamakan ¨mujahid muda¨. Aku sudah mengalami lebih dari lima kali kecelakaan bersamanya...dia adalah salah satu bagian kehidupan Jogja yang kurindukan. Hmm.

Aku rindu.
Aku tercabik di antara rasa. Separuh diriku ingin pulang dan meninggalkan Jepang begitu saja. Namun separuhnya lagi yang berakal sehat tahu bahwa aku tidak bisa. Bukan hanya karena stipend KAUST yang berlipat tiga selama aku hidup di sini, melainkan karena...takdir. Aku ingin menjalani takdir ku di sini, dengan segala pahit getirnya, yang membawa sekecap selintas manis di sela-sela nya. Aku ingin menjalani takdirku di sini...karena takdir ini juga yang membawa rindu ini ke dadaku.
Takdir ini pula yang membuatku menulis note terpanjang yang pernah kubuat...karena aku rindu.

Allah...aku rindu.
Namun apa, siapa yang sedang kurindukan?

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP