Senin, 09 Maret 2009

MAHLIGAI MELALUI PERNIKAHAN


Berbicara tentang
pernikahan banyak yang menyesal.
Menyesal kalau tahu begini nikmat
kenapatidak dari
dulu. Menyesal ternyata banyak deritanya. Menikah itu
tidak mudah, yang mudah itu ijab kabulnya. Rukun nikah
yang lima harus dihapal
dan wajib lengkap kesemuanya.
Begitu pula dengan syarat wajib nikah pada pria
yang
harus diperhatikan. Bagaimana
jika kita belum punya
biaya? Harus diyakini bahwa tiap orang itu sudah ada
rezekinya. Menikah itu menggabungkan dua rezeki,
rezeki
wanita dan laki-laki bertemu, masalahnya adalah
apakah rezeki itu diambil
dengan cara yang barokah
atau tidak. Allah tidak menciptakan manusia
dengan
rasa lapar tanpa diberi makanan. Allah menghidupkan
manusia untuk
beribadah yang tentu saja memerlukan
tenaga, mustahil
Allah tidak memberi rezeki kepada
kita.

Biaya pernikahan bukanlah perkara mahal, yang penting
ada. Maka kalau sudah darurat bahkan mengutang
untuk
menikah diperbolehkan daripada mendekati zina. Kalau
sudah menikah setelah ijab kabul, jangan jadi riya
dengan mengadakan resepsi yang mewah.
Hal ini tidak
akan menjadi barokah. Misalnya dalam mengundang,
hanya
menyertakan orang kaya saja, orang miskin tidak
diundang. Bahkan
Rasulullah melarang mengundang dengan
membeda-bedakan status. Dalam
mengadakan resepsi
jangan sampai mengharapkan balasan income yang
didapat.

Masalah mas kawin yang paling bagus adalah emas dan
uang mahar yang paling bagus adalah uang. Berilah
wanita sebanyak yang kita mampu, jangan hanya berkutat
dengan seperangkat alat
sholat saja. Rasulullah lebih
mengutamakan emas dan uang dan inilah hak
wanita. Awal
nikah jangan membayangkan punya rumah yang bagus.
Maka
perkataan terbaik suami kepada istrinya adalah
menasehati istri agar dekat dengan Allah. Jika
istri
dekat dengan Allah maka ia akan dijamin oleh Allah
mudah-mudahan
lewat kita.

Tiga rumus yang harus selalu diingat terdapat dalam
surah
Al-Asyr. Setiap bertambah hari, bertambah umur,
kita itu merugi kecuali tiga
golongan kelompok yang
beruntung. Golongan pertama adalah orang yang
selalu
berpikir keras bagaimana supaya keyakinan dia kepada
Allah
meningkat. Sebab semua kebahagiaan dan kemuliaan
itu berbanding lurus dengan
tingkat keyakinan kepada
Allah. Tidak ada orang ikhlas
kecuali yakinkepada
Allah. Tidak ada sabar kecuali kenal kepada Allah.
Tidak
ada orng yang zuhud kepada dunia kecuali orang
yang tahu kekayaan Allah.
Tidak ada orang yang tawadhu
kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab
dan kenal dengan Allah
semua dipandang kecil. Setiap
hari dalam hidup kita seharusnya
dipikirkan bagaimana
kita dekat dengan Allah.

Kalau Allah sudah
mencintai mahluk segala urusan akan
beres. Salah satu bukti
seperseratus sifat pemurah
Allah yang disebarkan kepada seluruh mahlukNya
bisa
dilihat sikap seorang ibu yang melahirkan seorang anak
Kesakitan waktu melahirkan, hamil sembilan bulan tanpa
mengeluh yang belum tentu anak tersebut akan membalas
budinya. Tidak tidur ketika anaknya sakit, mengurus
anak
dari mulai TK sampai SMA. Memikirkan biaya
kuliah. Mulai nikah dibiayai
sampai punya anak bahkan
juga diterima tinggal di rumah sang ibu.
Tetapi
kerelaannya masih saja terpancar. Itulah
seperseratus
sifat Allah.

Selalukomitmen
mau kemana rumah tangga ini akan
dibawa.
Mungkin sang ayah atau ibu yang
meninggal
lebih dulu yang penting keluarga
ini akan kumpul di
surga. Apapun yang ada dirumah harus menjadi
jalan
mendekat kepada Allah. Beli barang apapun harus barang
yang disukai
Allah. Supaya rumah kita menjadi rumah
yang disukai Allah. Boleh punya barang
yang bagus
tanpa diwarnai dengan takabur. Bukan perkara mahal
atau murah,
bagus atau tidak tetapi apakah bisa
dipertanggungjawabkan disisi Allah atau
tidak.
Bahkan dalam mendengar lagu yang disukai Allah siapa
tahu
kita dipanggil Allah ketika mendengar lagu.
Rumah kita harus Allah oriented.
Kaligrafi dengan
tulisan Allah. Kita senang melihat rumah mewah
dan
islami. Jadikan semua harta jadi dakwah mulai mobil
sampai rumah. Tiap
punya uang beli buku, buat
perpustakaan di rumah untuk tamu yang
berkunjung
membaca dan menambah ilmu. Jangan memberi
hadiah
lebaran hanya makanan, coba memberi buku, kaset dan
bacaan lain
yang berguna.

Jangan rewel memikirkan
kebutuhan kita, itu semua
tidak akan kemana-mana.
Allah tahu kebutuhan kita
daripada kita sendiri. Allah menciptakan usus
dengan
disain untuk lapar tidak mungkin tidak diberi makan.
Allah menyuruh
kita menutup aurat, tidak mungkin tidak
diberi pakaian. Apa yang kita
pikirkan Allah sudah
mengetahui apa yang kita pikirkan. Yang harus
kita
pikirkan adalah bagaimana dekat dengan Allah,
selanjutnya Allah yang
akan mengurusnya. Kita
cenderung untuk memikirkan yang tidak disuruh
oleh
Allah bukan yang disuruhNya.
Kalau hubungan kita dengan Allah bagus semua akan
beres. Barang siapa yang terus dekat dengan Allah,
akan diberi jalan keluar setiap urusannya. Dan dijamin
dengan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga. Dan
barang siapa hatinya yakin Allah yang punya segalanya,
akan dicukupkan segala kebutuhannya.. Jadi bukan dunia
ini yang menjadi masalah tetapi hubungan kita dengan
Allah-lah masalahnya.

Golongan kedua adalah rumah tangga yang akan rugi
adalah rumah tangga yang kurang amal. Jangan capai
memikirkan apa yang kita inginkan, tapi pikirkan apa
yang bisa kita lakukan. Pikiran kita harusnya hanya
memikirkan dua hal yakni bagaimana hati ini bisa
bersih, tulus, dan bening sehingga melakukan apapun
ikhlas dan yang kedua teruslah tingkatkan kekuatan
untuk terus berbuat. Pikiran itu bukan mengacu pada
mencari uang tetapi bagaimana menyedekahkan uang
tersebut, menolong, dan membahagiakan orang dengan
senyum. Sehingga dimanapun kita berada bagai pancaran
matahari yang menerangi yang gelap, menuai bibit,
menyemarakkan suasana. Sesudah itu serahkan kepada
Allah.. Setiap kita memungut sampah demi Allah itu akan
dibalas oleh Allah.

Rekan-rekan Sekalian,
Mari kita ubah paradigmanya. Rumah tangga yang paling
beruntung adalah rumah tangga yang paling banyak
produktifitas kebaikannya. Uang yang paling barokah
adalah uang yang paling tinggi produktifitasnya, bukan
senang melihat uang kita tercatat di deposito atau
tabungan. Uang sebaiknya ditaruh di BMT. Yang terjadi
adalah multiefek bagi pihak lain, hal ini menjadikan
uang kita barokah. Daripada uang kita disimpan di Bank
kemudian Banknya bangkrut, disimpan di kolong kasur
takut dirampok.

Kaya boleh asal produktif. Boleh mempunyai rumah
banyak asal diniatkan agar barokah demi Allah itu akan
beruntung. Beli tanah seluas-luasnya. Sebagian
diwakafkan, kemudian dibangun masjid. Pahala akan
mengalir untuk kita sampai Yaumil Hisab. Makanya terus
cari uang bukan untuk memperkaya diri tapi
mendistribusikan untuk ummat. Sedekah itu tidak akan
mengurangi harta kita kecuali bertambah.. Jadi pikiran
kita bukan akan mendapat apa kita? tapi akan berbuat
apa kita?. Apakah hari ini saya sudah menolong orang,
sudahkah senyum, berapa orang yang saya sapa, berapa
orang yang saya bantu?

Makin banyak menuntut makin capai. Makin kuat kita
menuntut kalau Allah tidak mengijinkan maka tidak akan
terwujud. Kita minta dihormati, malah Allah akan
memperlihatkan kekurangan kita. Kita malah akan
dicaci, hasilnya sakit hati. Orang yang beruntung,
setiap waktu pikirannya produktif mengenai kebaikan.
Selagi hidup lakukanlah, sesudah mati kita tidak akan
bisa. Kalau sudah berbuat nanti Allah yang akan
memberi, itulah namanya rezeki. Orang yang beruntung
adalah orang yang paling produktif kebaikannya.

Yang ketiga rumah tangga atau manusia yang beruntung
itu adalah pikirannya setiap hari memikirkan bagaimana
ia bisa menjadi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran
dan ia pecinta nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.
Setiap hari carilah input nasihat kemana-mana.
Kata-kata yang paling bagus yang kita katakan adalah
meminta saran dan nasihat. Ayah meminta nasihat kepada
anak, niscaya tidak akan kehilangan wibawa. Begitu
pula seorang atasan di kantor.

Kita harus berusaha setiap hari mendapatkan informasi
dan koreksi dari pihak luar, kita tidak akan bisa
menjadi penasihat yang baik sebelum ia menjadi orang
yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi
nasihat jika kita tidak bisa menerima nasihat. Jangan
pernah membantah, makin sibuk membela diri makin jelas
kelemahan kita. Alasan adalah kelemahan kita. Cara
menjawab kritikan adalah evaluasi dan perbaikan diri.
Mungkin membutuhkan waktu sebulan bahkan setahun.
Nikmatilah nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan
hidup. Sayang hidup hanya sekali dan sebentar hanya
untuk menipu diri. Merasa keren di dunia tetapi hina
dihadapan Allah. Merasa pinter padahal bodoh dalam
pandangan Allah.

Mudah-mudahan kita bisa menerapkan tiga hal diatas.
Setiap waktu berlalu tambahlah ilmu agar iman
meningkat, setiap waktu isi dengan menambah amal.
jangan sampai waktu berlalu dengan sia-sia.........
Alhamdulillah

" Dengan “MEMBERI” hati ini menjadi lapang dan hati juga menjadi bahagia.
So, mulailah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup ini…"
Wassalam,..

Read more...

KEPERCAYAAN


Kepercayaan Di Dalam Pernikahan
Ya ALLAH, tunjukilah pada kami yang baik itu tampak baik dan berilah kami kemampuan untuk melaksanakannya. Dan tunjukilah pada kami yang buruk itu tampak buruk dan berilah kami kemampuan untuk menjauhkannya. Aamiin.

Pernikahan kami sudah di depan mata. Alhamdulillah persiapannya pun sudah hampir 50%. Kendala selama ini memang ada, tetapi masih dalam batas yang sangat normal. Sampai ujian yang lain pun datang, karena mungkin Allah ingin membimbing kami yang masih bodoh, egois, pemarah, sombong, dan masih banyak lagi sifat kami yang belum baik sebagai pemberi tauladan nantinya.

Suatu ketika, dari pihak laki-laki memberitahukan untuk memohon pengertian dari pihak perempuan untuk bisa merubah kesepakatan hari dan tanggal yang sudah kedua belah pihak sepakati dengan alasan ternyata menurut kepercayaan mereka tanggal itu tidaklah baik untuk dilangsungkannya pernikahan.

Kronologis penentuan tanggal pun sebenarnya pihak laki-laki menyerahkan kepada pihak perempuan, tetapi kemudian pihak laki-laki mengajukan suatu tanggal kepada pihak perempuan bahwa berdasarkan perhitungan dan konsultasi pihak laki-laki bahwa tanggal X adalah tanggal yang terbaik (masih pada bulan haji, bukan hari kelahiran calon suamiku, bukan hari wafatnya ayah calon suamiku, dan juga bukan hari wafatnya ibuku).

Hal ini cukup mendapatkan perhatian khusus dari keluargaku, bukan hal yang mudah karena kami mempunyai keyakinan semua hari dalam Islam itu baik. Menikah itu tidaklah sulit, jangan pula dipersulit. Kami menjadi bingung dan ada perasaan seperti kurang dihormati oleh pihak laki-laki.

Alhamdulillah, kami dari pihak perempuan akhirnya mengalah. Kami menikah (akad) seminggu sebelum resepsi, karena ternyata dari pihak katering tidak bisa merubah hari yang telah ditentukan. Kerepotan dan biaya yang kami keluarkan juga menjadi bertambah. Inilah pelajaran yang kuterima dari perjalananku yang ingin membina rumah tangga baru.

Aku di keluargaku sangat diterima baik atas apapun yang terjadi. Kami memang bukan orang kaya dan sudah tidak mempunyai Ibu lagi, tapi kami punya banyak saudara yang selalu mau mendengar kesulitan apalagi kebahagiaan dari saudara-saudaranya. Namun, calon suamiku mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda denganku.

Kepercayaan dia dengan keluarganya berbeda, dan dia cukup dikucilkan dari keluarganya sendiri. Calon suamiku mendapatkan perbedaan kasih sayang dan perhatian dari orangtua yang sangat jelas, baik sebelum apalagi sesudah peristiwa itu. Bahkan dari pihak laki-laki pun mengancam untuk tidak mau datang jika dia tidak berhasil merubah tanggal yang sudah ditentukan.

Allah… Semoga usahaku untuk bisa menjadi istri yang baik dan usaha calon suamiku untuk menjadi suami yang baik sudah mulai terproses dan selalu mendapatkan RidhaMU.

Terima kasih untuk seluruh perhatian, pengorbanan psikis dan materil, keikhlasan untuk mengalah, kesabaran, dan lain-lain yang telah seluruh saudaraku lakukan. Semoga Allah selalu menjaga semua yang sudah baik yang kita miliki dan membimbing untuk bisa lebih baik lagi dalam berbuat dan berkata-kata.

Read more...

ISTRI YANG DI CARI


Kalau melihat populasi antara laki-laki dan wanita saat ini, 1 banding 4, untuk sementara kita akan mengatakan tidak terlalu sulit mencari seorang calon istri. Kalau mencari istri hanya kriterianya cukup dia berjenis kelamin wanita saja, tanpa embel-embel lain, rasanya mudah. Setidaknya logika kita akan mengatakan, jika tidak berhasil dengan calon pertama kan ada peluang kedua. Gagal lagi yang kedua, masih ada yang ketiga dan keempat. Belum lagi peluang orang lain yang tak diambil. Lalu kalau mencari istri, tapi ingin yang cantik dan mempesona, sulitkah?

Jika saat ini semakin banyak produk-produk kecantikan, semisal berbagai merk lotion, spa, facial, atau apalah yang lainnya, yang dapat memoles penampilan wanita menjadi lebih cantik dan anggun, kulit hitam menjadi putih, rambut keriting jadi lurus, badan gemuk jadi langsing, gigi tonggos jadi rapi, bibir dipoles jadi sensual, dan gaun-gaun yang modis lagi menggoda, seharusnya signifikan dengan semakin bertambahnya wanita-wanita cantik di negeri ini. Rasanya kita juga akan menjawab “MUDAH”. Sekarang kemungkinan besar tidak sulit juga memilih istri yang cantik dan mempesona secara lahiriah.

Memang memiliki istri cantik, apalagi kaya dan dari keturunan terhormat, merupakan idaman para lelaki. Kecantikan menjadi salah satu sumber kesenangan di hati. Dari mata turun ke hati, begitu kata pepatah. Seperti orang-orang kota yang sumpek melihat jejalan beton-beton raksasa kemudian menjatuhkan pandangannya pada keindahan alam pegunungan, di situ letak kesenangan dan hiburan bagi mereka. Begitu pula halnya istri yang memiliki paras cantik, ia menghadirkan kesenangan di hati suaminya. Lalu mungkin ada yang bertanya, sampai kapan kesenangan itu? Pertanyaan ini yang sulit dijawab. Apalagi menjawab, apakah mereka yang mempesona dalam segi fisik pasti akan membawa kita dalam ketentraman dan kebahagiaan rumah tangga? Ah, tidak ada yang mau menjamin. Kalau hanya senang secara biologis kemungkinan iya, tapi kesenangan semacam ini sifatnya tidak lama dan tidak menjadi penentu ketentraman rumah tangga melainkan sedikit saja.

Memang bagi yang belum menikah, kecantikan kadang menjadi yang utama. Faktor fisik menjadi segala-galanya. Ketika usia bertambah tua, kecantikan juga akan semakin sirna. Padahal, menikah belum setahun, secara naluriah akan muncul perasaan begini, sang istri yang dulu primadona, sekarang tampak seperti biasa-biasa saja. Jika seorang suami tidak juga menemukan “kecantikan lain” pada istrinya, yang bukan berasal dari parasnya saja, bisa jadi kecantikan itu malah menjadi fitnah rumah tangga. Fitnah yang seperti apa? Dengarkanlah sabda Rasulullah, “Jangan menikahi wanita karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya itu akan memburukannya. Dan jangan menikahi wanita karena hartanya, bisa jadi hartanya membuatnya melampaui batas. Tetapi, nikahilah wanita atas perkara agamanya. Sungguh, hamba sahaya wanita yang sebagian hidungnya terpotong lagi berkulit hitam tapi taat beragama adalah lebih baik.

Read more...

KECANTIKAN YANG MEMBURUKAN


Seperti apakah kecantikan yang memburukan? Wallahu a’lam bishshawab. Mungkin saja mereka adalah yang merasa kecantikannya harus dihargai lebih. Mereka adalah yang merasa suaminya tak bisa menghargai kelebihannya. Mereka adalah yang kecantikannya digunakan untuk menyimpang, memuaskan nafsunya. Masih herankah kita, apa yang menjadi alasan artis-artis itu dengan mudahnya kawin cerai? Ya, salah satunya karena merasa memiliki kemampuan untuk memperoleh suami yang lebih baik melalui kecantikan dan kekayaannya. Itulah kecantikan yang memburukan. Atau kecantikan yang memburukan itu terjadi karena naluriah yang tak terbendung. Yaitu menonjol-nonjolkan kecantikannya di hadapan orang lain selain suaminya dengan maksud riya. Walau ia tak bermaksud menggoda lelaki lain, bukankah itu hal yang buruk?

Kecantikan atau harta belum cukup menjadi kriteria untuk kita menetapkan pendamping hidup. Ada yang perlu kita buka kembali. Secara arif, mengenai wawasan kita, mengenai harapan kebarokahan pernikahan, tentang cita-cita kesakinahan keluarga, tentang kebersamaan mengarungi hidup. Tentang dambaan keturunan-keturunan yang shaleh, tentang keadaan hidup setelah mati. Sabda Rasulullah berikut ini sudah sering kita dengar, kita ulang kembali, mudah-mudahan tidak sekedar lewat di telinga, tapi merupakan bekal yang membekas di hati, “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama, niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beruntung! Kalau yang menyampaikan kata “beruntung” itu adalah seorang pengusaha atau pedagang, maka makna beruntung itu tidak jauh dari yang namanya uang. Tapi kalau yang menyampaikan Rasulullah, katakan, keberuntungan seperti apakah itu? Bukankah keberuntungan itu mengenai kebahagiaan dunia berupa rumah tangga yang diberkahi Allah dan kebahagiaan akhirat berupa tabungan pahala dan kebaikan?

Coba sebut apa yang kita harapkan sebagai suami dari istri kita? Bukankah kita ingin ia menjadi penyemangat saat kita putus asa, penghibur saat kita sedih, penyejuk saat kekeringan, pendorong amal ibadah. Kemudian mau bersabar saat musibah, dan bersyukur dengan apa pun karunia yang diterima. Dan istri yang bisa memberikan itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan cantik tidaknya atau kaya tidaknya dia. Mereka adalah wanita-wanita yang baik agamanya. Mereka bertaqwa pada Allah dan patuh pada suaminya. Mereka yang tidak hanya melihat aktivitas melayani suami, mendidik anak, menjaga rumah, atau tugas-tugasnya yang lain sebagai urusan dunia semata. Tapi ada harapan yang lebih besar, yakni keridhaan Allah dan balasan SurgaNya di akhirat kelak.

Percayalah, tidak ada yang membuat seorang suami merasa tentram kecuali karena sikap baik seorang istri. Tidak ada sikap baik istri yang lebih jujur kecuali karena lahir dari ketulusan. Dan tidak ada ketulusan yang kokoh kecuali karena keikhlasan untuk bertaqwa kepada Allah. Inilah mengapa Rasulullah memerintahkan kita perihal menentukan calon istri berdasarkan kualitas agamanya. Karena agama adalah akhlak mulia, Addiinu Akhlakul Kariimah. Termasuk akhlak mulia seorang istri untuk bersedia melayani suaminya dengan tulus, ikhlas, dan sebab taqwanya kepada Allah SWT, ” Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisa : 34).

Maka jatuhkan pandangan hanya pada faktor agama. Semata-mata agama. Kita juga tidak pernah menginginkan anak-anak yang alakadarnya atau bahkan yang jauh dari agama bukan? Ibunyalah sebagai seniman yang akan melukis kepribadian dan karakter anak-anak itu. Tentu yang kita inginkan, Ibu yang tak hanya mampu memberi cinta, namun juga pendidikan dan keteladanan menyangkut agama dan akhlak mereka.

agama

Baik Agamanya

Soal kriteria baiknya agama seorang wanita, ada dasar dan cabang-cabangnya. Seorang wanita melaksanakan shalat wajib, menjaga kemaluannya, menutup aurat, patuh pada suami, dan menjauhi kemaksiatan, itu lebih dari cukup untuk menjadi dasar bahwa ia baik agamanya. Rasulullah bersabda, “Apabila seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu, telah dapat memelihara kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang disukainya.” (HR. Ahmad).

Seorang wanita, misalnya ahli Tahajjud, atau luas pemahaman agamanya, memiliki kepedulian tinggi terhadap dakwah, dermawan, misal juga suka menghafal Al-Qur’an, itu adalah cabang-cabang kriteria yang kita tentukan untuk memperoleh yang lebih baik dari yang sudah baik. Kalau kita mampu, mudah-mudahan kita beruntung bisa menikahi wanita yang memiliki kemuliaan agama dan akhlak seperti itu, aamiin…

Namun, kadang kebaikan terbentuk seiring berjalannya waktu. Boleh jadi kedewasaan berpikir dan semangat untuk meningkatkan kualitas agama baru terbentuk setelah menikah. Setelah hadirnya seorang suami yang menjadi imam, dan hadirnya anak-anak yang membutuhkan keteladanan. Mungkin saat ini, calon istri kita tidak terlalu kuat dalam menunaikan perkara-perkara amaliah kecuali hanya melaksanakan shalat wajib, puasa Ramadhan, sopan dalam bergaul, dan menutup aurat. Subhanallah, sungguh jika selaras dengan keikhlasan di hatinya, yang seperti itu telah mulia di sisi Allah dan mulia di hadapan manusia, Insya Allah.

Mari saling berbagi nasehat, tetaplah kaki berpijak kepada sunnatullah. Berusaha dan berdo’a agar Allah menghadirkan seorang istri shalehah yang bertaqwa kepada Allah dan patuh pada suaminya. Tanyalah kepada siapa pun yang bisa ditanyai. Mintalah bantuan kepada siapa pun yang rela memberikan bantuan.

Berikhtiarlah di atas garis syari’at yang sudah ditetapkan. Bersabarlah untuk tidak mendekat pada proses-proses yang diharamkan. Hingga saatnya takdir benar-benar mendekatkan kita dengannya. Selanjutnya, dengan sangat percaya diri, kita akan menyambut datangnya pendamping terbaik, “khairunnisa”, siapakah khairunnisa itu?

“Khairunnisa” (Wanita Terbaik) adalah yang dapat menyenangkan hati suami apabila ia memandang, menaatinya apabila ia memerintah, dan tidak menentangnya dalam diri dan hartanya dengan sesuatu yang dibencinya.

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP