Selasa, 17 Maret 2009

Hati / Nurani



Seorang penjahat yang telah membunuh banyak orang tertangkap dan dibawa ke hadapan seorang hakim yang jujur dan dikenal memiliki integritas yang tinggi. Setelah mempelajari kasusnya hakim ini pun mengambil keputusan yang tegas: menghukum mati si penjahat. Ini menimbulkan kegembiraan masyarakat. Hakim ini pun menjadi buah bibir dan pembicaraan di mana-mana.


Namun, selang beberapa waktu kemudian terungkaplah sebuah fakta baru. Ternyata si hakim telah mengenal si penjahat sejak 10 tahun yang lalu dan mereka berdua terlibat cinta segitiga. Cinta segitiga ini dimenangkan oleh si penjahat. Dialah yang menikahi wanita pujaan si hakim. Inilah yang membuat si hakim tetap ”hidup sendiri” hingga sekarang.

Apa yang ada dalam pikiran Anda membaca cerita di atas? Menurut Anda, apa yang membuat hakim itu menjatuhkan hukuman mati? Sebuah pertimbangan hati nuranikah? Atau semata-mata pemenuhan sebuah kepentingan?

Pertanyaan seperti inilah yang perlu kita tanyakan kepada diri kita masing-masing setiap saat. Apalagi dalam situasi pemilu seperti sekarang di mana setiap kandidat menyerukan masyarakat agar mengikuti suara hati nuraninya. Tapi, masalahnya kenapa suara hati nurani itu bisa berbeda-beda? Orang yang mendukung seorang koruptor maupun pelanggar HAM juga berdalih mengikuti hati nurani. Bahkan, kata-kata ”mengikuti hati nurani” kini telah menjadi merek dagang yang bisa ditafsirkan sesuai dengan kepentingan masing-masing

Padahal, suara hati nurani itu adalah satu. Hati nurani bersifat universal melintasi batas suku, ras, agama, dan golongan. Ia tidak pernah mengacu pada seseorang. Tapi, pada sejumlah karakter seperti kebenaran, kejujuran, ketulusan, dan integritas. Hati nurani adalah kemampuan terdalam yang dimiliki setiap orang untuk menemukan kebenaran. Hati nurani juga adalah samudera terdalam yang melintasi kendala ruang dan waktu. Di dalam samudera hati nurani, kita bukan lagi makhluk fisik tetapi makhluk spiritual. Di sinilah tempat kita berkomunikasi tanpa suara, tanpa sepatah kata. Kita berbicara dalam keheningan tetapi semuanya dapat dimengerti dengan mudah. Tak ada salah paham, tak ada perselisihan, tak ada perdebatan. Segalanya sederhana dan indah. Percakapan terjadi melampaui batas kata-kata. Bukankah sesuatu yang indah itu tak tak dapat dilukiskan dengan kata-kata?

Hati nurani bukanlah segumpal daging yang berada di rongga dada kita. Ia tak dapat digambarkan karena memang bersifat spiritual. Ia berada jauh di bawah kesadaran kita. Kita tak tahu dimana persisnya ia berada. Kita hanya tahu ”pintu” yang bisa digunakan untuk menuju kesana. Pintu tersebut berada dalam otak kita. Inilah yang disebut Danar Zohar dan Ian Marshal dengan titik Tuhan (God Spot) yang terdapat di bagian lobus temporal di otak kita.

Penelitian Zohar dan Marshal menunjukkan bahwa bagian ini akan bercahaya begitu kita melakukan aktivitas yang bersifat spiritual. Inilah yang disebut sebagai spiritual quotient (SQ). Pada saat kita beribadah, ataupun melakukan meditasi, sebenarnya kita tengah masuk ke dalam samudera hati nurani ini. Kita menyatukan hati nurani kita bersama hati nurani semua manusia yang ada di jagat raya. Kita memasuki samudera diri kita yang sejati. Pada saat beribadah (bila dilakukan secara khusus) kita sebenarnya sedang melakukan mi’raj. Ini karena kita melepaskan semua kepentingan kita di bumi menuju samudera yang jauh tempat berkumpulnya semua nurani dengan Diri Sejati kita.

Walaupun merupakan potensi yang dimiliki semua orang, tak semua orang mampu menemukan hati nurani karena terhalang oleh kepentingan. Bahkan, kalau tidak berhati-hati, bisa-bisa kita menganggap bahwa kepentingan itulah hati nurani kita. Dunia politik adalah dunia kepentingan. Anda tentu pernah mendengar adagium berikut: ”Tak ada sahabat sejati, tak ada musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.” Karena itu, demi kepentingan kita bisa mengatakan yang salah itu benar, yang benar itu salah, menutupi fakta, memanipulasi hasil survei, dan sebagainya.

Kepentingan bisa menjadi begitu besar bagi mereka yang berorientasi jangka pendek. Orang-orang seperti ini memandang dunia sebagai satu-satunya tempat memperoleh kenikmatan. Mereka bisa saja bergelar kyai, atau ahli agama. Padahal, mereka sesungguhnya tidak yakin pada kenikmatan yang bisa dicapai secara jangka panjang di alam yang abadi nanti. Karena itu, mereka tidak mau melewatkan kenikmatan jangka pendek. Kalau Daniel Goleman mengatakan bahwa kemampuan menunda kenikmatan adalah ciri orang ber-EQ tinggi, saya ingin mengatakan bahwa hal tersebut juga merupakan ciri orang yang ber-SQ tinggi.

Dengan berfungsinya hati nurani tidaklah berarti bahwa kita tidak memiliki kepentingan sama sekali. Kita tetap memiliki kepentingan. Bedanya, kepentingan itu kini jauh mengecil. Jauh lebih kecil dari diri kita. Bahkan jauh lebih kecil dari hidup itu sendiri.

Read more...

Rabu, 11 Maret 2009

boleh kah aku mengenalmu


Dikisahkan ada dua remaja usia belasan tahun sedang bertengkar sehingga mengakibatkan salah satu diantara mereka yang bernama Cinta merasa sakit hati dan mengurung diri. Salah satu temannya yang bernama Sayang merasakan ada rasa yang tidak nyaman sehingga timbul niatnya untuk meminta maaf.
Padahal kalau diusut kesalahannya tidak seberapa fatal cuma sebuah salah paham saja. Cinta memaksakan diri untuk menemui Pangeran dan kasih melarang dengan alasan tunggu karena si Pangeran sedang tidak ingin diganggu. Saat itulah cinta naik pitam dan marah serta menuduh kasih sengaja berbuat demikian karena cinta tahu kasih juga ada perhatian khusus pada si Pangeran. Tapi hal tersebut sengaja cinta tutup mata karena kasih adalah sahabat sejatinya.
Ditengah perdebatan itu datanglah sayang yang datang tergopoh-gopoh karena tidak ingin ada pertengkaran diantara mereka. Hal itu membuat Cinta marah dan langsung pergi. Kasih yang melihat sikap aneh cinta cuma diam saja sambil melihat bayang cinta yang jauh hingga hilang dari pandangan. Kasih lalu menjelaskan duduk permasalahannya sehingga terjadi pertikaian itu kepada sayang.
Tampak raut wajah sayang berfikir keras, tak lama dia tersenyum dan berkata lirih, " Tenang Kasih, aku ada akan membantumu asal kau mau menuruti semua nasehatku" Kata Sayang kepada Kasih. Akhirnya Kasih mengangguk tanda setuju. "Sekarang ikuti saran ku, pertama datanglah ke Cinta dan minta maaflah kepadanya. Kedua berikan senyum yang paling indah untuknya.
Dan yang ketiga, berdoalah untuknya dengan tulus dan ikhlas. Apapun yang terjadi terimalah dengan lapang dada. Spontan wajah Kasih tampak berbinar dan langsung bergegas meninggalkan Sayang. Melihat keadaan seperti Sayang cuma terseyum dan mendoakan semoga Sayang bisa sabar menghadapi Cinta.
Tak lama kemudian datanglah Kasih dengan seseorang yang amat dikenalnya yaitu Cinta, tampak juga si Pangeran disamping Cinta. Mereka terlihat amat bahagia. Kesalah pahaman sudah berakhir. kini cinta sudah mendapatkan kebahagiaan melalui perjuangan Kasih dalam melebur egonya. Semoga Cinta menjadi lebih dewasa, sabar dan bijak dalam berlaku. Apapun keadaannya sebuah rasa adalah semua datangnya dari hati, sebuah fitrah yang Allah ciptakan buat kita semua. Semoga kita semua termasuk menjadi hamba yang pandai bersyukur. Amiin.

Read more...

Senin, 09 Maret 2009

KETIDAK JUJURAN AKAN MEMBUAT PETAKA


Ketakjujuran yang ada dalam rumah tangga, menjadi sangat sulit untuk bisa dipahami. Bagaimana tidak, jika diluar rumah sudah sangat sulit ditemukan yang dinamakan kejujuran itu. Dan ketidakjujuran diluar rumah kita bagai sebuah kebutuhan yang seakan harus ada, dan tak bisa kita hadapi serta hindari. Ini bisa dimaklumi, mengingat ketidakjujuran bagai sebuah kenyataan yang ada dalam masyarakat kita, dan kitapun tak mampu bisa berbuat apa dengan ketidakjujuran yang ada.

Inilah yang menjadi sulit dipahami jika dalam rumah tangga kita sudah menjadi bagiaan kebohongan-kebohongan yang ada dalam masyarakat kita. Hal ini dikarenakan, kebohongan dalam masyarakat sampai saat ini masih sulit untuk bisa dibongkar, akibat kultur yang ada terlalu kuat mencengkeram masyarakat kita. Nah..! kemudian kalau kita coba mencari benang merah dari kebohongan masyarakat kita, maka yang terjadi dalam masyarakat kita adalah korupsi seakan bagai bagian dari hidup mereka, kekerasan seakan bagai pilihan yang menjadi keharusan, dan kelambanan majunya tingkat ekonomi mereka tak lepas dari kebohongan-kebohongan yang ada pada mereka.



Semua seakan bisa eksis atau menjadi terhornat jika mereka bisa melakukan kebohongan demi kebohongan yang nyata. Semua seakan bisa menang dan mendapatkan tempat, jika bisa melakukan kebohongan dan kemunafikan. Maka yang banyak terjadi selanjutnya adalah mudahnya siapa saja mengumbar amarah, mudah siapa saja mengamuk serta merusak apa saja, dan juga tak kalah menariknya, adalah seakan siapa saja merasa puas jika belum ada perkelahian dan jotos-jotosan, seperti yang sering terjadi di gedung dewan terhormat atau musyawarah-musyawarah yang dilakukan partai-partai dalam masyarakat bangsa kita ini. Mereka seakan belum merasa puas kalau belum terjadi apa yang dinamakan kekerasaan itu.



Inilah kenyataan yang banyak terjadi dalam masyarakat bangsa yang tercinta ini. Mereka semua tak menyadari, kenapa mereka semua seakan begitu suka dengan jotos-jotosan, perkelahian, dan kekerasaan. Lha wong para pemimpinnya saja sudah mempunyai watak dan kepribadian seperti itu apalagi masyarakatnya, sehingga semua seakan diajarkan tentag perlunya sebuah kekerasan dan kekerasan. Opo...Tumon..! mbak ! kalau sudah begini kenyataannya.



Namun anehnya mereka tidak menyadari, kenapa mereka bisa terperangkap dengan kekerasan demi kekerasan (gontok-gontokan dan mengumbar amarah yang tiada batas etika). Mereka semua tidak menyedari kenapa mereka merasa terdorong untuk melakukan itu semua. Mereka semua seakan tidak pernah tahu, kenapa semua harus melakukan itu semua ? Mereka semua tidak pernah tahu dan menyadari bahwa sumber dari segala sumber yang telah menjadikan mereka menjadi seperti itu, tak lain dan tak bukan adalah hanyalah sebuah ketidakjujuran yang telah merasuki hati mereka semua.



Ketidakjujuran yang menyebabkan banyak dari mereka menjadi munafik dan sangat licik. Ketidakjujuran yang membuat mereka menjadi serakah dan sombong. Ketidakjujuran yang membuat mereka menjadi tak punya hati dan nurani. Tak mau tahu apakah mereka adalah orang bulukan, bawahan, pejabat, agamawan, kyai atau preman sekalipun. Semua seakan telah dihinggapi oleh nurani yang telah banyak dikotori dengan ketidakjujuran dan kebohongan. Namun aneh bin ajaib, semua tidak tahu pokok permasalahan yang telah menjadi sumber dari itu semua. Sumber masalah yang tak lain dan tak bukan adalah ketidakjujuran alias kebohongan yang nyata-nyata ada.



Itulah efek-efek yang telah banyak menyebabkan berbagai masalah yang tak lain dan tak bukan sebanarnya akan merugikan kita semua, semuanya termasuk diri dan keluarga kita.

Read more...

RUMAH TANGGA DI DIRIKAN ATAS KEJUJURAN


Itulah efek-efek dari sebuah ketidakjujuran, keadaan bangsa saja menjadi carut marut, apalagi hanya sebuah rumah tangga, yang kecil dan lemah ini. Ketidakjujuran tentu saja akan membuat bangunan sebuah rumah tangga menjadi mudah keropos dan mudah goyah. Bagaimana tidak jika ketidakjujuran saja pasti akan menimbulkan kesalahpahaman dan kekurangpahaman terhadap sesuatu yang terjadi. Belum nantinya jika ketidakjujuran telah menjadi kemunafikan dan pengkianatan, tentu saja sulit rasanya rumah tangga yang sudah berdiri kokoh itu bisa tidak goyah karenanya. Dan tentu saja akan banyak efek yang akan ditimbulkannya akibatnya. Dan tentu saja efek tersebut akan tidak menguntungkan kelangsungan rumah tangga tersebut.



Namun harus diketahui pula bahwa untuk menegakkan ketidakjujuran itu, haruslah dengan hati yang dingin dan penuh kebijaksanaan. Menegakkan kejujuran itu haruslah diimbangi dengan kasih sayang yang sejati. Menegakkan kejujuran itu haruslah dilandasi dengan rasa kasih dan mengasihi. Menegakkan kejujuran itu haruslah tidak dengan amarah diri yang tiada arti. Menegakkan kejujuran itu haruslah tidak dengan tindakan yang asal menuduh tanpa rasa kasih. Karena menegakkan kejujuran itu harus dengan nurani dan diperlukan pemahaman yang tinggi.



Kita harus bisa memahami bahwa ketidakjujuran sudah berkeliaran kemanapun kita akan pergi. Untuk itu, bisa jadi, semua orang tak menyadari bahwa ketidakjujuran itu akan membawanya kepada hidup yang tiada arti.



Inilah yang kami kawatirkan terjadi pada suami anda. Suami anda serasa tidak menyadari bahwa kejujuran itu menjadi sangat berarti, ketika rumah tangga ini harus tegak dan berdiri. Mungkin bisa jadi, akibat diluar sudah banyak ketidakjujuran maka tanpa terasa, ketakjujuran itu terbawa juga sampai di rumah anda. Andapun menjadi kelimpungan dibuatnya. Namun bisa jadi, suami anda tidak merasakan ini semua. Bisa jadi suami anda hanya mereasakan masalah yang lainnya. Masalah yang sangat mungkin tidak berhubungan dengan sebuah kejujuran. Namun masalah yang tidak sadar di sebabkan oleh ketidakjujuran itu sendiri. Sehingga keadaan ini menjadikan sangat mudah memunculkan kesalahpahaman-kesalahpahaman yang bisa memancing masalah tersendiri.



Kemudian kesalahpahaman demi kesalahpahaman, tidak menutup kemungkinan merembet kepada masalah-masalah lainnya. Entahlah, banyak hal yang bisa mengakibatkan masalah seakan bisa merembet kemana-mana, entah menjadi pemborosanlah, melakukan sesutu yang tak bergunalah, menjadi memunculkan kecurigaan-kecurigaan yang lainlah, dan masih banyak masalah-masalah lain yang bisa dimunculkan akibat kesalahpahaman-kesalahpahaman yang tak segera di selesaikan. Maka, kalau sudah begini adanya, tentu saja rumah tangga ini akan mudah mengalami goncangan dan pertentangan, padahal semua terjadi hanya gara-gara kesalahpahaman belaka. Kesalahpahaman-kesalahpahaman yang kalau dicari ujung pangkalnya, tak lain dan tak bukan hanyalah berawal dari ketidakjujuran yang telah terjadi selama ini.



Maka tidak ada cara lain yang bisa untuk menegakkan bangunan rumah tangga ini, keculi ada usaha menegakkan kembali sebuah ketidakjujuran yang telah terjadi. Menegakkan sebuah kejujuran itupun tidak bisa dilakukan dengan semena-mena dan penuh emosi. Sebab itu semua menjadi tidak akan membawa arti. Sebab tidak ada jalan lain pula untuk menegakkan kejujuran dalam sebuah rumah tangga, kecuali dengan sikap yang dingin, penuh pemahaman, penuh rasa kasih yang dalam, penuh kebijakan nurani, saling memberi dan bukan hanya untuk mencari menangnya sendiri dan benarnya sendiri.

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP