saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan
Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.
Jumat, 20 Maret 2009
Saling isilah cawan minuman kalian
Namun jangan meminum dari satu cawan saja
Berbagilah roti, tapi jangan memakan dari kerat yang sama
Bernyanyi dan menarilah bersama dalam kegembiraan
Tapi ijinkan masing-masing dalam kesendirian
Sebab dawai-dawai harpa pun sendiri
Saat menggetarkan senandung yang sama
Gibran tampaknya mengerti, menikah bukanlah saling menguasakan: Berikanlah hati kalian, namun jangan saling menguasakan. Menikah adalah lebih pada memberi, dan bukan sekadar berbagi.
Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang disimpan. Dan kerena itulah, percintaan selalu memiliki gairah penaklukan, ketika belum ada yang dikuasakan. Tampaknya, pernikahan harus juga dibayangkan seperti percintaan, sebelum ijab, ketika aku dan engkau tak harus menjadi kita. Hanya dengan begitu, pernikahan, rumah tangga, tak lagi diisi rintihan.
Rabu, 18 Maret 2009
kusyuk untuk beribadah

Hampir semua umat beragama mencari atau berlomba-lomba mencari kekhusyuan dalam ibadahnya, bahkan bila mungkin juga khusyu dalam kehidupannya, namun apa dan dimana serta bagaimanakah khusyu itu sebenarnya, banyak orang berusaha menggenjot konsentrasi dalam ibadahnya, ada juga yang berusaha menyatu dengan alam agar mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut, namun kenyataannya apa yang terjadi, mengapa sang khusyu tiada kunjung tiba, sehingga orang akhirnya ada yang merasa frustasi karena tidak pernah berhasil mencapainya, tentu saja akibat dari rasa frustasi ini akan sulit diperkirakan akibatnya.Benarkah hingga sedemikian sulitnya untuk mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut?, ataukah disebabkan oleh ketidak tahuan bahwa sebenarnya khusyu adalah hadiah, sehingga tidak akan didapatkan dengan cara memaksakan, melainkan harus ditunggu kedatangannya dengan sabar, syukur, berserah diri serta tertib.
Jika khusyu adalah hadiah, mengapa ada sebagian orang yang menggenjot konsentrasi dengan cara-cara shalat panjang ataupun dengan berdzikir panjang ternyata dapat juga mencapai khusyu, walaupun dengan pengorbanan yang besar baik itu dari segi waktu maupun tenaga, sekiranya untuk mendapatkan khusyu haruslah sedemikian besar pengorbanannya, tentu akan sulitlah bagi orang-orang biasa yang mempunyai kesibukan keseharian yang cukup banyak, sedangkan khusyu itu sendiri adalah hak bagi semua orang.
Bagi mereka yang berkeluangan waktu dan tenaga, mereka dapat melakukan pengkonsentrasian dengan melakukan shalat taupun dzikir panjang, sehingga dengan terkurasnya tenaga hingga habis maka tanpa terasa mereka telah bersih diri, sabar serta berserah diri, sehingga khusyu bisa didapatkan walaupun mereka hanya mendapatkan khusyu ibadah dan bukan khusyu kehidupan.
Sedangkan mereka yang berusaha menyatu dengan alam, mereka merasakan mendapatkan ketenangan jiwa yang mereka anggap kekhusyuan walaupun sebenarnya adalah bukan, semua itu dikarenakan menyatu dengan alam adalah menyatukan jiwa dengan bumi, ataupun sejauh-jauhnya menyatukan jiwa dengan alam semesta, yang kedua-duanya masih termasuk hitungan dunia, sedangkan khusyu kaitannya adalah dengan akhirat, kesalahan-kesalahan tersebut memang umum terjadi, tentu saja penyebabnya adalah kesulitan dalam membedakan yang mana mata bathin dengan yang mana mata terbuka hijab ghaib, mata terbuka hijab ghaib adalah mata yang dapat melihat mahluk ghaib, tentu saja yang terlihat bukanlah yang Maha Ghaib, ataupun akhirat yang jauh diluar alam semesta, sedangkan mata bathin tentu saja tidak melihat melalui kedua matanya itu, karena pada saat mata bathin terbuka, semua panca indera tetap berfungsi seperti biasanya dan tidaklah seperti orang yang kehilangan kesadarannya.
Sekarang pertanyaannya adalah, jadi dapatkah dan atau bagaimanakah kita sebagai orang-orang biasa saja dapat mencapai apa yang dinamakan khusyu beribadah, bahkan khusyu dalam kehidupan, jawabannya tentu saja dapat, sedangkan masalah bagaimananya, kita harus menelaah lebih dahulu dasar-dasar pendukung pemberian hadiah khusyu itu sendiri, pada dasarnya islam adalah pola hidup yang harus di dukung oleh kesadaran yang setinggi-tingginya, oleh karena itulah maka umat islam diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu sebagai pembentukan pola beribadah, yang harus dilakukan dengan kesadaran sepenuhnya, sehingga sangat tidak disarankan kita shalat sambil menutup mata, bahkan pergerakannya pun haruslah dilakukan dengan setertib-tertibnya agar lisan maupun pergerakan shalat itu senantiasa tetap terjaga niat, arti serta tujuannya, tidak menjadi susut dimakan lalai karena sudah terbiasa atau begitu rutinnya, karena segala sesuatu perbuatan manusia itu, yang pertama-tama di lihat adalah niatnya, seperti yang sudah umum kita lihat dalam keseharian, bagaimana salam yang begitu sering di ucapkan menjadi berubah fungsi dan artinya menjadi say halo saja, padahal saling memberi salam itu sebenarnya adalah saling mendo'a kan, sehingga niat bersalam itu niat mendo'akan orang, tujuannya adalah agar orang yang dido'akan tersebut selamat dunia akherat, mendapat rahmat serta berkah dari Allah, hukumnya bagi orang yang mendo'akan akan mendapat yang sama, tanpa mengurangi sedikitpun dari orang yang dido'akannya, adapun dalam kehidupan keseharian kita di ajarkan untuk membaca Basmallah setiap kali hendak melakukan sesuatu, serta do'a-do'a harian yang dapat menjadi pagar kehidupan kita, asalkan semuanya itu dilakukan dengan selalu menyadari sepenuhnya akan niat, maksud serta tujuan setiap segala sesuatu yang kita lakukan.
Oleh karena itu, dalam melaksanakan shalat usahakanlah senantiasa melaksanakannya penuh dengan kesadaran serta ketertiban, tertib dalam setiap gerakan serta lisan, tidak kehilangan niat, maksud, tujuan serta melakukannya hanya karena Allah, demikian pula dalam melaksanakan kehidupan keseharian kita, lakukanlah semua karena Allah serta jelas niat, maksud, tujuannya, jadikanlah segala sesuatu dalam kehidupan kita menjadikan kita mengingat Allah, mengejar pahala karena di suruh Allah melalui rosulnya, menghindari dosa karena dilarang Allah melalui rosulnya, berdo'a meminta kepada Allah yang maha kaya serta maha pengasih lagi penyayang kata rosulnya, Basmallah menempatkan Allah menemani serta mengawasi kita begitulah yang disampaikan rosul Allah tentang keseharian, ingatlah bahwa mengingat Allah dan rosulnya akan senantiasa memperkuat Syahadat kita, sedangkan pola hidup islami akan membuat kita otomatis berdzikir mengingat Allah pada saat berdiri, duduk dan tidur.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dengan melakukan ibadah yang penuh dengan kesadaran dan ketertiban, ditambah hidup dengan pola islami, tawadhu, sabar serta pandai bersyukur dan senantiasa berprasangka baik pada Allah, istiqomah dalam menjalankan semua itu, InsyaAllah hadiah khusyu dalam beribadah maupun khusyu dalam keseharian yang didambakan akan kita didapatkan, aamiin.
Ciri-ciri khusyu, bila kita mendapatkannya adalah terbukanya mata bathin kita, yang dapat dirasakan sebagai rasa haru yang sangat, apabila kita sedang mengingat Allah, akhirat, surga, Rasulullah, dosa-dosa yang telah lalu serta lain-lain hal yang berkaitan dengan ruhani kita, rasa haru tersebut membuat kita merasa hati tergores rindu, menetes airmata, banjir airmata bahkan bisa sampai menangis tersedu-sedu.
Sebagai catatan tambahan, dalam keseharian kita di jalanan baik dalam berkendaraan maupun berjalan kaki, seringkali tanpa disadari kita menghancurkan pola hidup islami kita dengan menghinakan diri menjadi preman bahkan menjadi perampok, yang merampas atau merampok hak orang lain dengan memotong, memepet, mengambil jalan orang lain, menghalangi, menyebrang dengan berlambat-lambat, saling memaki atau mengumpat serta lain-lain perangai tidak terpuji yang kita lakukan, perlu kita sadari bahwa semua orang ingin cepat sampai ke tujuan dengan tenang, tentram dan aman di jalan, menjalin dan menjaga silaturahmi sangatlah di sarankan bagi orang islam.
Selasa, 17 Maret 2009
Hati / Nurani

Seorang penjahat yang telah membunuh banyak orang tertangkap dan dibawa ke hadapan seorang hakim yang jujur dan dikenal memiliki integritas yang tinggi. Setelah mempelajari kasusnya hakim ini pun mengambil keputusan yang tegas: menghukum mati si penjahat. Ini menimbulkan kegembiraan masyarakat. Hakim ini pun menjadi buah bibir dan pembicaraan di mana-mana.
Namun, selang beberapa waktu kemudian terungkaplah sebuah fakta baru. Ternyata si hakim telah mengenal si penjahat sejak 10 tahun yang lalu dan mereka berdua terlibat cinta segitiga. Cinta segitiga ini dimenangkan oleh si penjahat. Dialah yang menikahi wanita pujaan si hakim. Inilah yang membuat si hakim tetap ”hidup sendiri” hingga sekarang.
Apa yang ada dalam pikiran Anda membaca cerita di atas? Menurut Anda, apa yang membuat hakim itu menjatuhkan hukuman mati? Sebuah pertimbangan hati nuranikah? Atau semata-mata pemenuhan sebuah kepentingan?
Pertanyaan seperti inilah yang perlu kita tanyakan kepada diri kita masing-masing setiap saat. Apalagi dalam situasi pemilu seperti sekarang di mana setiap kandidat menyerukan masyarakat agar mengikuti suara hati nuraninya. Tapi, masalahnya kenapa suara hati nurani itu bisa berbeda-beda? Orang yang mendukung seorang koruptor maupun pelanggar HAM juga berdalih mengikuti hati nurani. Bahkan, kata-kata ”mengikuti hati nurani” kini telah menjadi merek dagang yang bisa ditafsirkan sesuai dengan kepentingan masing-masing
Padahal, suara hati nurani itu adalah satu. Hati nurani bersifat universal melintasi batas suku, ras, agama, dan golongan. Ia tidak pernah mengacu pada seseorang. Tapi, pada sejumlah karakter seperti kebenaran, kejujuran, ketulusan, dan integritas. Hati nurani adalah kemampuan terdalam yang dimiliki setiap orang untuk menemukan kebenaran. Hati nurani juga adalah samudera terdalam yang melintasi kendala ruang dan waktu. Di dalam samudera hati nurani, kita bukan lagi makhluk fisik tetapi makhluk spiritual. Di sinilah tempat kita berkomunikasi tanpa suara, tanpa sepatah kata. Kita berbicara dalam keheningan tetapi semuanya dapat dimengerti dengan mudah. Tak ada salah paham, tak ada perselisihan, tak ada perdebatan. Segalanya sederhana dan indah. Percakapan terjadi melampaui batas kata-kata. Bukankah sesuatu yang indah itu tak tak dapat dilukiskan dengan kata-kata?
Hati nurani bukanlah segumpal daging yang berada di rongga dada kita. Ia tak dapat digambarkan karena memang bersifat spiritual. Ia berada jauh di bawah kesadaran kita. Kita tak tahu dimana persisnya ia berada. Kita hanya tahu ”pintu” yang bisa digunakan untuk menuju kesana. Pintu tersebut berada dalam otak kita. Inilah yang disebut Danar Zohar dan Ian Marshal dengan titik Tuhan (God Spot) yang terdapat di bagian lobus temporal di otak kita.
Penelitian Zohar dan Marshal menunjukkan bahwa bagian ini akan bercahaya begitu kita melakukan aktivitas yang bersifat spiritual. Inilah yang disebut sebagai spiritual quotient (SQ). Pada saat kita beribadah, ataupun melakukan meditasi, sebenarnya kita tengah masuk ke dalam samudera hati nurani ini. Kita menyatukan hati nurani kita bersama hati nurani semua manusia yang ada di jagat raya. Kita memasuki samudera diri kita yang sejati. Pada saat beribadah (bila dilakukan secara khusus) kita sebenarnya sedang melakukan mi’raj. Ini karena kita melepaskan semua kepentingan kita di bumi menuju samudera yang jauh tempat berkumpulnya semua nurani dengan Diri Sejati kita.
Walaupun merupakan potensi yang dimiliki semua orang, tak semua orang mampu menemukan hati nurani karena terhalang oleh kepentingan. Bahkan, kalau tidak berhati-hati, bisa-bisa kita menganggap bahwa kepentingan itulah hati nurani kita. Dunia politik adalah dunia kepentingan. Anda tentu pernah mendengar adagium berikut: ”Tak ada sahabat sejati, tak ada musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.” Karena itu, demi kepentingan kita bisa mengatakan yang salah itu benar, yang benar itu salah, menutupi fakta, memanipulasi hasil survei, dan sebagainya.
Kepentingan bisa menjadi begitu besar bagi mereka yang berorientasi jangka pendek. Orang-orang seperti ini memandang dunia sebagai satu-satunya tempat memperoleh kenikmatan. Mereka bisa saja bergelar kyai, atau ahli agama. Padahal, mereka sesungguhnya tidak yakin pada kenikmatan yang bisa dicapai secara jangka panjang di alam yang abadi nanti. Karena itu, mereka tidak mau melewatkan kenikmatan jangka pendek. Kalau Daniel Goleman mengatakan bahwa kemampuan menunda kenikmatan adalah ciri orang ber-EQ tinggi, saya ingin mengatakan bahwa hal tersebut juga merupakan ciri orang yang ber-SQ tinggi.
Dengan berfungsinya hati nurani tidaklah berarti bahwa kita tidak memiliki kepentingan sama sekali. Kita tetap memiliki kepentingan. Bedanya, kepentingan itu kini jauh mengecil. Jauh lebih kecil dari diri kita. Bahkan jauh lebih kecil dari hidup itu sendiri.
